Kamis, 10 Mei 2012

Nilai-Nilai Hidup dan Kehidupan


Nilai-nilai hidup dan kehidupan merupakan hasil kebudayaan; atau salah satu unsur kebudayaan adalah nilai-nilai hidup dan kehidupan? Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan karena mempunyai kaitan erat.
Jika kebudayaan dimengerti sebagi hasil cipta manusia untuk memperbaiki, mempermudah, dan meningkatkan kualitas diri; maka nilai-nilai hidup dan kehidupan merupakan hasil kebudayaan. Akan tetapi, jika kebudayaan dimengerti sebagai keseluruhan kemampuan [pikiran, kata, dan tindakan atau perbuatan] manusia; maka nilai-nilai hidup dan kehidupan merupakan unsur-unsur kebudayaan yang digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan dan sesuai sikonnya.
Menurut maknanya, etika, etiket, hal-hal etis, nilai, dan norma dapat berlaku atau mempunyai kesamaan secara universal. 
Akan tetapi, jika diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk kata dan tindakan serta perilaku dalam interaksi antar manusia; maka berbeda sesuai sikon serta lingkungan interaksi itu terjadi. Orang-orang di benua Amerika, Eropa, Asia mempunyai pengertian ataupun pemahaman yang relatif sama tentang etika, etiket, hal-hal etis, nilai, norma. Namun, ada kata-kata, tindakan, dan perilaku keseharian yang telah menjadi kebiasaan orang-orang Amerika dan Eropa yang berbeda dengan masyarakat Asia maupun Afrika, dan seterusnya. Dan jika kebiasaan-kebiasaan itu dipraktekkan pada sikon Asia, maka dianggap [ataupun disebut dan dituduh] tidak etis dan tak sesuai nilai-nilai ataupun norma ketimuran, dan lain sebagainya.

Nilai atau value adalah ukuran [pada diri seseorang] tentang sesuatu [sikap, kata, situasi, dan lain lain] yang dapat [dan selalu atau sering kali] mempengaruhi perilakunya. Nilai selalu mempunyai kaitan dengan norma atau petunjuk-petunjuk agar mempunyai hidup serta berperilaku yang baik. Norma biasanya tidak tertulis namun berlaku dan disetujui secara umum.
Jadi, nilai-nilai hidup dan kehidupan merupakan keseluruhan tampilan diri, sikap, kata, perbuatan manusia sesuai sikonnya.
Nilai-nilai hidup dan kehidupan manusia biasanya dipengaruhi oleh masukan-masukan dari luar dirinya sejak kecil. Hal-hal tersebut, antara lain,
·          agama atau ajaran-ajaran agama, biasanya bersifat mutlak; artinya tertanam dan berakarnya nilai-nilai dalam diri seseorang, yang kadang telah menjadi prinsip hidupnya, merupakan akibat dari pemahaman keagamaan yang kuat dan mendalam; dan seringkali ia tidak bisa menjelaskan alasan-alasan mempunyai prinsip [yang mungkin orang lain menganggap sebagai suatu kekakuan], namun karena imanya, ia tetap pada pendiriannya
·         norma ataupun kebiasaan yang berlaku dalam komunitas; norma-norma yang berlaku pada suatu komunitas biasanya bersifat warisan bersama; artinya semua anggota komunitas menyetujui dan mempraktekkannya. Karena merupakan warisan bersama, maka hal itu terus-menerus diturunkankepada generasi berikut; dan bisa dipakai sebagai salah satu indentits bersama pada komunitas tersebut; dengan demikian, sampai kapan atau dimana pun ia berada, maka selalu mempertahankan nilai-nilai tersebut
·         pendidikan formal dan informal, disiplin, latihan, bimbingan orang tua maupun guru; semuanya itu merupakan penanaman nilai-nilai yang dilakukan sejak dini oleh orang dewasa ke dalam diri seseorang atau anak-anaknya. Proses penanaman itu dilakukan secara sengaja maupun tidak, dengan tujuan tertanam niali-nilai luhur, baik, dan benar, yang menjadikan seseorang, dapat diterima oleh sesamanya
·         interaksi sosial yang membawa perubahan pikiran dan tujuan mengungkapkan kata serta melakukan tindakan
·          pengalaman serta wawasan yang didapat karena adanya interaksi dengan orang lain serta keterbukaan menyerap hal-hal baru
Dengan demikian, ada kesamaan nilai-nilai hidup dan kehidupan yang ada di suatu komunitas masyarakat; kesamaan yang berlaku dan diterima oleh seluruh anggota komunitas. Hal tersebut, termasuk nilai-nilai keagamaan, berlaku untuk semua umat yang menganut agama. Walaupun demikian, pada masing-masing orang [tiap-tiap pribadi] ada nilai-nilai yang khas, sesuai dengan masukan-masukan yang didapatkannya.
Dan bisa saja [seringkali] terjadi, nilai-nilai hidup dan kehidupan pada pribadi seseorang berbeda dengan yang berlaku dalam masyarakat. Nilai-nilai hidup dan kehidupan dalam masyarakat pun mempunyai aneka perbedaan tertentu karena berbagai latar belakang anggotanya.Masukan-masukan [ajaran] keagamaan yang dominan pada seseorang sangat mempengaruhi nilai-nilai hidup dan kehidupannya. Orang yang mempunyai nila-nilai keagamaan yang baik, kokoh, dan kuat, akan menjadikan ia mampu bersifat kritis terhadap hal-hal ada disekitarnya. Namun, nilai-nilai hidup dan kehidupan yang dominan [karena] ajaran agama tidak boleh menjadikan fanantisme keagamaan yang sempit. Nilai-nilai keagamaan dapat menjadi suatu saringan untuk mampu menahan diri terhadap semua pengaruh buruk. Dengan itu, jika seseorang yang mendapat masukan-masukan ajaran Kristen, maka ia akan mempunyai nilai-nilai kristiani dalam hidup dan kehidupannya.

Nilai-nilai hidup dan kehidupan berdasarkan ajaran Kristen [singkatnya, nilai-nilai kristiani] pada seseorang muncul karena adanya agape. Inti nilai-nilai kristiani adalah agape, kasih yang sejati. Di dalam agape terkandung kesabaran; murah hati; tidak cemburu; tidak sombong; melakukan hal-hal yang sopan; tidak dendam; kejujuran, perhatian, mengerti, pahami dan memahami orang lain; kesetiaan; percaya; komitmen pada ucapan dan janji. Dalam hidup dan kehidupan sosial, agape berfungsi sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Agape mampu meniadakan segala bentuk perbedaan yang dibangun manusia, permusuhan, pertantangan, pertengkaran, salah pengertian; serta selalu membawa atau berdampak pada perdamaian, damai sejahtera, dan ketenangan.

Hubungan Antara Unsur-Unsur Kebudayaan


Hubungan Antara Unsur-Unsur Kebudayaan
Komponen-komponen atau unsur-unsur utama dari kebudayaan antara lain:
Peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/18/COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Tjangkollen_door_vrouwen_Karo-Hoogvlakte_TMnr_10010951.jpg/200px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Tjangkollen_door_vrouwen_Karo-Hoogvlakte_TMnr_10010951.jpg

Teknologi merupakan salah satu komponen kebudayaan.
Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian.
Masyarakat kecil yang berpindah-pindah atau masyarakat pedesaan yang hidup dari pertanian paling sedikit mengenal delapan macam teknologi tradisional (disebut juga sistem peralatan dan unsur kebudayaan fisik), yaitu:
§  alat-alat produktif
§  senjata
§  wadah
§  alat-alat menyalakan api
§  makanan
§  pakaian
§  tempat berlindung dan perumahan
§  alat-alat transportasi
Sistem mata pencaharian
Perhatian para ilmuwan pada sistem mata pencaharian ini terfokus pada masalah-masalah mata pencaharian tradisional saja, di antaranya:
§  Berburu dan meramu
§  Beternak
§  Bercocok tanam di ladang
§  Menangkap ikan
Sistem kekerabatan dan organisasi sosial
Sistem kekerabatan merupakan bagian yang sangat penting dalam struktur sosial. Meyer Fortes mengemukakan bahwa sistem kekerabatan suatu masyarakat dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan.
Kekerabatan adalah unit-unit sosial yang terdiri dari beberapa keluarga yang memiliki hubungan darah atau hubungan perkawinan. Anggota kekerabatan terdiri atas ayah, ibu, anak, menantu, cucu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek dan seterusnya.
Dalam kajian sosiologi-antropologi, ada beberapa macam kelompok kekerabatan dari yang jumlahnya relatif kecil hingga besar seperti keluarga ambilineal, klan, fatri, dan paroh masyarakat. Di masyarakat umum kita juga mengenal kelompok kekerabatan lain seperti keluarga inti, keluarga luas, keluarga bilateral, dan keluarga unilateral.
Sementara itu, organisasi sosial adalah perkumpulan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum, yang berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam pembangunan bangsa dan negara. Sebagai makhluk yang selalu hidup bersama-sama, manusia membentuk organisasi sosial untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang tidak dapat mereka capai sendiri.
Bahasa
Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Bahasa memiliki beberapa fungsi yang dapat dibagi menjadi fungsi umum dan fungsi khusus. Fungsi bahasa secara umum adalah sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial. Sedangkan fungsi bahasa secara khusus adalah untuk mengadakan hubungan dalam pergaulan sehari-hari, mewujudkan seni (sastra), mempelajari naskah-naskah kuno, dan untuk mengeksploitasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kesenian
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/aa/%C3%84gyptischer_Maler_um_1400_v._Chr._001.jpg/200px-%C3%84gyptischer_Maler_um_1400_v._Chr._001.jpg
http://bits.wikimedia.org/skins-1.20wmf1/common/images/magnify-clip.png
Karya seni dari peradaban Mesir kuno.
Kesenian mengacu pada nilai keindahan (estetika) yang berasal dari ekspresi hasrat manusia akan keindahan yang dinikmati dengan mata ataupun telinga. Sebagai makhluk yang mempunyai cita rasa tinggi, manusia menghasilkan berbagai corak kesenian mulai dari yang sederhana hingga perwujudan kesenian yang kompleks.
Sistem Kepercayaan
Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan adanya penguasa tertinggi dari sistem jagad raya ini, yang juga mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya. Sehubungan dengan itu, baik secara individual maupun hidup bermasyarakat, manusia tidak dapat dilepaskan dari religi atau sistem kepercayaan kepada penguasa alam semesta.
Agama dan sistem kepercayaan lainnya seringkali terintegrasi dengan kebudayaan. Agama (bahasa Inggris: Religion, yang berasar dari bahasa Latinreligare, yang berarti "menambatkan"), adalah sebuah unsur kebudayaan yang penting dalam sejarah umat manusia. Dictionary of Philosophy and Religion(Kamus Filosofi dan Agama) mendefinisikan Agama sebagai berikut:
... sebuah institusi dengan keanggotaan yang diakui dan biasa berkumpul bersama untuk beribadah, dan menerima sebuah paket doktrin yang menawarkan hal yang terkait dengan sikap yang harus diambil oleh individu untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.[3]
Agama biasanya memiliki suatu prinsip, seperti "10 Firman" dalam agama Kristen atau "5 rukun Islam" dalam agama Islam. Kadang-kadang agama dilibatkan dalam sistem pemerintahan, seperti misalnya dalam sistem teokrasi. Agama juga memengaruhi kesenian.
Agama Samawi
Tiga agama besar, Yahudi, Kristen dan Islam, sering dikelompokkan sebagai agama Samawi[4] atau agama Abrahamik.[5] Ketiga agama tersebut memiliki sejumlah tradisi yang sama namun juga perbedaan-perbedaan yang mendasar dalam inti ajarannya. Ketiganya telah memberikan pengaruh yang besar dalam kebudayaan manusia di berbagai belahan dunia.
Yahudi adalah salah satu agama, yang jika tidak disebut sebagai yang pertama, adalah agama monotheistik dan salah satu agama tertua yang masih ada sampai sekarang. Terdapat nilai-nilai dan sejarah umat Yahudi yang juga direferensikan dalam agama Abrahamik lainnya, seperti Kristen dan Islam. Saat ini umat Yahudi berjumlah lebih dari 13 juta jiwa.[6]
Kristen (Protestan dan Katolik) adalah agama yang banyak mengubah wajah kebudayaan Eropa dalam 1.700 tahun terakhir. Pemikiran para filsuf modern pun banyak terpengaruh oleh para filsufKristen semacam St. Thomas Aquinas dan Erasmus. Saat ini diperkirakan terdapat antara 1,5 s.d. 2,1 milyar pemeluk agama Kristen di seluruh dunia.[7]
Islam memiliki nilai-nilai dan norma agama yang banyak memengaruhi kebudayaan Timur Tengah dan Afrika Utara, dan sebagian wilayah Asia Tenggara. Saat ini terdapat lebih dari 1,5 milyar pemeluk agama Islam di dunia.
Agama dan filsafat dari Timur
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/f/fe/Agni_god_of_fire.jpg/110px-Agni_god_of_fire.jpg

Agama dan filosofi seringkali saling terkait satu sama lain pada kebudayaan Asia. Agama dan filosofi di Asia kebanyakan berasal dari India dan China, dan menyebar di sepanjang benua Asia melalui difusi kebudayaan dan migrasi.
Hinduisme adalah sumber dari Buddhisme, cabang Mahāyāna yang menyebar di sepanjang utara dan timur India sampai Tibet, China, Mongolia, Jepang dan Korea dan China selatan sampai Vietnam. Theravāda Buddhisme menyebar di sekitar Asia Tenggara, termasuk Sri Lanka, bagian barat laut China, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.
Agama Hindu dari India, mengajarkan pentingnya elemen nonmateri sementara sebuah pemikiran India lainnya, Carvaka, menekankan untuk mencari kenikmatan di dunia.
Konghucu dan Taoisme, dua filosofi yang berasal dari Cina, memengaruhi baik religi, seni, politik, maupun tradisi filosofi di seluruh Asia.
Pada abad ke-20, di kedua negara berpenduduk paling padat se-Asia, dua aliran filosofi politik tercipta. Mahatma Gandhi memberikan pengertian baru tentang Ahimsa, inti dari kepercayaan Hindu maupun Jaina, dan memberikan definisi baru tentang konsep antikekerasan dan antiperang. Pada periode yang sama, filosofi komunisme Mao Zedong menjadi sistem kepercayaan sekuler yang sangat kuat di China.
Agama tradisional
Agama tradisional, atau kadang-kadang disebut sebagai "agama nenek moyang", dianut oleh sebagian suku pedalaman di Asia, Afrika, dan Amerika. Pengaruh bereka cukup besar; mungkin bisa dianggap telah menyerap kedalam kebudayaan atau bahkan menjadi agama negara, seperti misalnya agama Shinto.
Seperti kebanyakan agama lainnya, agama tradisional menjawab kebutuhan rohani manusia akan ketentraman hati di saat bermasalah, tertimpa musibah, tertimpa musibah dan menyediakan ritual yang ditujukan untuk kebahagiaan manusia itu sendiri.
"American Dream"
American Dream, atau "mimpi orang Amerika" dalam bahasa Indonesia, adalah sebuah kepercayaan, yang dipercayai oleh banyak orang di Amerika Serikat. Mereka percaya, melalui kerja keras, pengorbanan, dan kebulatan tekad, tanpa memedulikan status sosial, seseorang dapat mendapatkan kehidupan yang lebih baik. [9]
Gagasan ini berakar dari sebuah keyakinan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah "kota di atas bukit" (atau city upon a hill"), "cahaya untuk negara-negara" ("a light unto the nations"),[10] yang memiliki nilai dan kekayaan yang telah ada sejak kedatangan para penjelajah Eropa sampai generasi berikutnya.
Pernikahan
Agama sering kali mempengaruhi pernikahan dan perilaku seksual. Kebanyakan gereja Kristen memberikan pemberkatan kepada pasangan yang menikah; gereja biasanya memasukkan acara pengucapan janji pernikahan di hadapan tamu, sebagai bukti bahwa komunitas tersebut menerima pernikahan mereka. Umat Kristen juga melihat hubungan antara Yesus Kristus dengan gerejanya.
Gereja Katolik Roma mempercayai bahwa sebuah perceraian adalah salah, dan orang yang bercerai tidak dapat dinikahkan kembali di gereja. Sementara Agama Islam memandang pernikahan sebagai suatu kewajiban. Islam menganjurkan untuk tidak melakukan perceraian, namun memperbolehkannya.
Sistem ilmu dan pengetahuan
Secara sederhana, pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia tentang benda, sifat, keadaan, dan harapan-harapan. Pengetahuan dimiliki oleh semua suku bangsa di dunia. Mereka memperoleh pengetahuan melalui pengalaman, intuisi, wahyu, dan berpikir menurut logika, atau percobaan-percobaan yang bersifat empiris (trial and error).
Sistem pengetahuan tersebut dikelompokkan menjadi:
§  pengetahuan tentang alam
§  pengetahuan tentang tumbuh-tumbuhan dan hewan di sekitarnya
§  pengetahuan tentang tubuh manusia, pengetahuan tentang sifat dan tingkah laku sesama manusia
§  pengetahuan tentang ruang dan waktu

Kebudayaan Sebagai Akar Peradaban


KEBUDAYAAN SEBAGAI AKAR PERADABAN

(Menggugah Kesadaran Generasi Muda Terhadap Pentingnya Pembangunan Moral Melalui Akar Budaya Bangsa Berhadapan dengan Heterogenisasi Kebudayaan dan Peradaban Bangsa Lain)
·         Jepang, sebagai economic superpower nomor dua setelah Amerika, saat ini menjadi Negara yang sangat diperhitungkan oleh hampir seluruh negara di planet bumi ini.
·         Setelah kiamat yang diakibatkan oleh pesawat-pesawat tempur Amerika pada tahun 1945 meluluh-lantakan Nagasaki dan Hiroshima, dan praktis menghancurkan Jepang secara nasional, menciptakan tragedi dan penderitaan yang sangat menyakitkan seluruh rakyat Jepang. Namun sangat menakjubkan, 35 tahun kemudian, pada tahun 1980-an, produk-produk Jepang yang lebih murah dan bermutu mampu menghancurkan industri-industri utama Amerika.
·         Jauh sebelum itu, lebih dari 260 tahun sebelum tahun 1868, sebelum restorasi Meiji yang sangat menakjubkan dunia itu, Jepang hanyalah Negara melarat yang kehidupannya sangat amburadul. Petani hanya jadi obyek penindasan dan bulan-bulanan para penguasa yang saat itu berada di tangan shogunat, rezim pemerintahan militer, yang pemerintahannya disebut Bakufu.
Shogun yang menguasai Jepang saat itu ialah klan shogun Tokugawa, yang belakangan semakin tak memiliki jiwa kepemimpinan. Pola hidup malas dan bermewah-mewah, membangun istana-istana megah saling membanggakan diri, semakin memperburuk kondisi Jepang saat itu.
Kaisar hanya menjadi symbol kekuasaan.
Keadaan ini meresahkan para samurai yang sangat mengagungkan kesucian Kekaisaran Jepang yang dipercaya sebagai keturunan Dewa Matahari.
Dengan keberanian yang luar biasa, pada tahun 1868 itulah, para samurai Choshu dan Satsuma di bawah kepemimpinan Jenderal Besar Saigo Takamori mengepung istana Shogun di Kyoto. Shogun terakhir Tokugawa,Yoshinobu berhasil digulingkan.
Matsuhito Meiji, seorang Kaisar muda berusia 15 tahun, yang baru saja naik tahta, dinyatakan sebagai penguasa baru Jepang. Pusat pemerintahan dipindahkan dari Kyoto ke Tokyo.
Yang memegang kendali di pemerintahan Jepang sebagai penasehat Kaisar adalah para samurai Choshu dan Satsuma, yaitu Pangeran Iwakura Tomomi, Kido Koin, Okubo Toshimichi, Jenderal Saigo Takamori sendiri dan Ito Hirobumi sebagai Perdana Menteri pertama Jepang. Usia mereka rata-rata 30-an tahun.
Sejak itu, Jepang mulai berubah. Dengan sangat brilian Jepang melakukan perubahan besar-besaran yang mencakup empat hal, yaitu:
·         Memikirkan secara serius Sumber Keuangan untuk menciptakan Negara yang kuat
·         Membangkitkan semangat nasionalisme
·         Membentuk armada militer dengan menggunakan system, metode dan teknologi persenjataan Barat sebagai pertahanan menghadapi Barat
·         Menciptakan masyarakat yang berinteligensia tinggi secara cepat untuk mengejar kemajuan Barat dengan cara mengembangan Sumber Daya Manusia yang kapabel dan akseptabel menerima perubahan dan perkembangan teknologi Barat
30 tahun kemudian sejak restorasi Meiji dimulai, Jepang telah menguasai pasar tekstil dunia, bahkan pada tahun 1905 dengan sangat menakjubkan mampu mengalahkan armada Rusia yang dianggap salah satu kekuatan terbesar di Eropa.
Yang menarik untuk dikaji di sini adalah bahwa Jepang sebagai economic superpower kedua setelah Amerika, yang menguasai perekonomian lebih setengah belahan dunia, dan tentunya sangat akseptabel terhadap budaya dari Negara manapun terutama Amerika, tak kehilangan akar budaya dan peradaban yang sangat signifikan seharusnya dapat merusak tata nilai masyarakat Jepang.
Kemajuan dalam bentuk apapun yang berkembang di planet bumi tak menggoyahkan tata nilai kebudayaan dan peradaban Jepang. Masyarakat Jepang sangat patuh, arif dan santun menjaga kelestarian budaya mereka. Bahkan semangat Busidho yang diwariskan nenek-moyang mereka menjadi holy-spirit bagi seluruh pokok-pokok fikiran dan kinerja mereka di segala bidang.
Jepang muncul sebagai Negara maju yang sangat patuh pada warisan nenek-moyang, kebudayaan dan peradaban yang telah menyatu dengan seluruh peri kehidupan mereka. Kemajuan teknologi harus dikemas dengan bahasa budaya mereka tanpa mengurangi atau menghambat derivasi atau inovasi teknologi di segala bidang, termasuk informatika dan telekomunikasi yang terus menuntut peningkatan dan pengembangan sains di seluruh belahan dunia ini.
Ilustrasi Jepang sebagai Negara maju seharusnya menjadi tantangan bagi kita, sebagai Negara yang justru pernah menjadi Negara besar, disegani bukan saja antar kerajaan-kerajaan di dalam negeri, tetapi Negara mancanegara pada zamannya, bahkan jauh sebelum era restorasi Meiji di Jepang.
Pada masa itu, di abad ke-14 setidaknya peta geopolitik di Asia Tenggara mencakup empat lingkaran besar, yaitu: India, Cina, Asia Tenggara (lama) dan Nusantara Raya (Majapahit). Temuan ini sangat mengejutkan kita. Ternyata lebih enam ratus tahun lalu kita telah membukukan daerah teritorial yang sangat luas dan mempunyai kekuatan politik yang diakui oleh mancanegara.
Hayam Wuruk bersama-sama Gajah Mada, orang yang memomongnya dengan telaten sejak dia masih kecil, telah memberikan garis kebijakan yang sangat jelas mengenai luas wilayah Majapahit yang merupakan rantai kepulauan besar nusantara, menurut Mohammad Yamin (berdasarkan uraian Nagarakretagama pupuh XIII-XIV) terbagi dalam daerah yang delapan, yaitu:
1.      Seluruh Jawa
2.      Seluruh Pulau Sumatra (Melayu)
3.      Seluruh Pulau Kalimantan (Tanjungnegara/Tanjung Pura)
4.      Seluruh Semenanjung Melayu (Malaka/Hujung Medini)
5.      Seluruh Nusa Tenggara
6.      Seluruh Sulawesi
7.      Seluruh Maluku
8.      Seluruh Papua/Irian (Barat)
Sejarah mencatat tahun 1357 Majapahit berhasil mempersatukan seluruh nusantara dalam satu panji, gula-kelapa (baca: merah-putih). Sejak itu basis militer dipindahkan dari Bali ke Dompo. Kestabilan keamanan saat itu menciptakan iklim yang kondusif. Pertumbuhan ekonomi secara signifikan memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat sampai ke peloksok desa.
Lebih dari enam ratus tahun lalu, bangsa kita telah membukukan sejarah yang tercatat bukan saja oleh para pujangga, namun dalam laporan kenegaraan negara lain, termasuk Cina, negara adikuasa di Asia Selatan saat itu.
Majapahit, dengan luas wilayah teritorial lebih luas dari Indonesia saat ini, ternyata tercatat dalam sejarah sebagai negara maritim yang mampu dan berhasil meciptakan konsepsi wawasan Nusantara pada sektor-sektor perekonomian, sosial, pemberdayaan potensi sumber daya alam, politik, keamanan dan kebudayaan yang sangat signifikan dan inheren memberikan kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan bagi rakyat di seluruh persada Nusantara, sampai ke negara-negara yang sekarang kita kenal dengan Malaysia, Singapura dan Brunei, yang dulu adalah bagian dari wilayah Nusantara Raya.
Kejayaan Majapahit sebagai cikal-bakal negara kesatuan Republik Indonesia bukan dongeng menjelang tidur.
Di bawah kepemimpinan Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubumi, Majapahit tercatat dalam sejarah menjadi negara besar di kawasan Asia Tenggara. Negara yang mampu membawa rakyatnya hidup makmur, sejahtera, adil, gemah ripah loh jinawi dengan kestabilan ekonomi, sosial, politik dan keamanan yang luar biasa.
Sumber daya alam menjadi kekayaan yang dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat. Dioptimalkannya bandar besar di Selat Malaka secara tidak langsung pada saat itu telah memberikan kontribusi yang sangat tinggi terhadap kemajuan perekonomian Nusantara Raya.
Kebesaran nama Majapahit meluas sampai ke negara tetangga. Berkat tangan dingin Gajah Mada dan Hayam Wuruk Majapahit menjadi negara yang sangat mashur di Asia Tenggara.
Beberapa pengelana Cina menggambarkan Majapahit sebagai negara yang makmur. Rombongan Cina yang dipimpin Laksamana Cheng Ho pada tahun 1416 berkunjung ke Majapahit dengan dua puluh dua jung besar yang mengangkut tidak kurang dari dua puluh tujuh ribu prajurit. Ikut dalam rombongan itu seorang agamawan Cina bernama Ma Huan yang menyajikan uraian mengenai geografi Majapahit dalam karyanya yang berjudul: Ying-yai Sheng-lan.
Lebih dari 170 tahun Majapahit sebagai Negara Maritim terbukti mampu membawa bangsa ini hidup makmur, sejahtera, gemah ripah loh jinawi, tanpa satupun bangsa asing mampu memporakporandakannya, apalagi menjajah Negara besar ini.
Di bawah ideologi dan falsafah dasar yang sangat keramat dan sakral, sebagai holy-spirit Gajah Mada memimpin bangsa ini, yaitu: Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa, yang tertuang dalam Kitab Sutasoma karya besar Rakawi Tantular.
Namun sayang, setelah keruntuhannya pada tahun 1478 karena pertikaian suksesi antar kerabat yang sangat klise, Majapahit runtuh oleh perebutan kekuasaan, dan Indonesia saat itu mulai kehilangan makna. Perpecahan tak dapat dihindari. Kerajaan yang tersebar di seluruh persada Nusantara ini mulai berantakan, menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang tak punya kekuatan apapun.
Kerajaan-kerajaan pesisir yang sangat potensial sebagai Negara maritim, yang dulu berada di bawah Majapahit mulai saling mempertahankan teritorialnya masing-masing. Demak yang kemudian ‘dianggap’ menggantikan kedudukan Majapahit ternyata tak mampu mempertahankan rantai kepulauan Nusantara yang sudah disatukan oleh Gajah Mada.
Tahun 1511, Demak tak mampu mempertahanan Selat Malaka yang pada zaman Majapahit menjadi soko guru perekonomian maritim Nusantara Raya.
Selat Malaka jatuh ke tangan Portugis.
Salah satu faktor strategis inilah yang menyebabkan Demak gagal mengembalikan kebesaran Negara maritim yang sudah dirintis oleh Gajah Mada.
Maritim sebagai tulang punggung perekonomian bangsa semakin pudar terlebih ketika bergantian Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang dengan seenaknya mengobok-obok kekayaan bangsa kita dalam segala bidang.
Nusantara Raya hilang dari percaturan planet bumi. Para anak-cucu founding-father Negara Maritim terbesar di belahan selatan Asia ini semakin tak memiliki kepercayaan diri untuk menjadi pewaris tahta atas tanah yang dianugerahkan Allah dengan berjuta sumber daya alam yang sangat kaya ini.
Saat ini, kita harus yakin bahwa Kebhinnekaan yang dicanangkan Gajah Mada lebih dari enam ratus tahun lalu, masih sangat strategis sebagai shared-value bangsa besar ini untuk bangkit dari tidur panjang.
Kebudayaan sebagai akar peradaban bangsa tercatat memberikan kontribusi sangat besar bagi perkembangan kehidupan berbangsa di kemudian hari. Kekayaan budaya bangsa terbukti mampu kembali membawa bangsa ini menjadi bangsa yang beradab setelah selama 3,5 abad menjadi bangsa terbelakang yang nyaris tak memiliki kemampuan untuk ‘memiliki’ tanah air tercinta ini.
Selama 3,5 abad terjajah, kita seperti kehilangan akar budaya dan peradaban sebagai pijakan kita atas tanah warisan nenek-moyang ini. Kita kehilangan jati diri.
Baru pada tahun 1928 kita mulai menyadari pentingnya persatuan dan kesatuan kembali menjadi pijakan filsafati bangsa sebagai roh dari akar budaya dan peradaban bangsa.
Roh ini kemudian terbukti mampu mengembalikan kepercayaan diri bangsa merebut harta termahal yang pernah dimiliki, yaitu kemerdekaan dan harga diri sebagai bangsa dan Negara berdaulat dengan diproklamirkannya eksistensi bangsa dan Negara kesatuan ini pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dengan tertatih-tatih kita mulai kembali merestrukturisasi tatanan budaya dan peradaban bangsa yang nyaris porak-poranda oleh ketamakan dan kerakusan bangsa asing menguras habis bukan saja sumber daya alam kita, tapi yang lebih penting lagi adalah tatanan moral dan mentalitas bangsa yang pernah besar lebih dari enam ratus tahun lalu.
Kesadaran sebagai bangsa besar dengan luas Negara meliputi perairan luas dan ribuan pulau terbentang sebagai rantai mutu manikam dengan berjuta keanekaragaman kekayaan flora-fauna, budaya dan bahasa telah memberikan semangat pada kita untuk kembali ‘memiliki’ harta yang sempat ‘hilang’ itu.
Kini, enam ratus tahun setelah Majapahit ‘mendeklarasikan’ persatuan Nusantara pada tahun 1357, kita kembali ‘mendeklarasikan’ persatuan Nusantara yang dikenal dengan Deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957 sebagai tonggak sejarah lahirnya Wawasan Nusantara.
Batas laut teritorial yang sebelumnya diatur di dalam Territoriale Zee Maritiem Kringen Ordinatie 1939 (Ordinasi tentang Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim) peninggalan kolonial Belanda, mengalami perubahan. Wilayah laut Indonesia menjadi lebih luas. Walau Deklarasi Djuanda ditolak pada Konferensi Hukum Laut di Geneva tahun 1958, namun momentum ini cukup memberikan semangat maritim yang pernah ada sejak zaman Indonesia purba dulu.
Deklarasi Djuanda dikukuhkan pada tanggal 18 Februari 1960 dalam Undang-Undang No. 4/Prp tahun 1960 tentang perairan Indonesia. Sedang Konsep Nusantara dituangkan dalam Wawasan Nusantara sebagai dasar pokok pelaksanaan Garis-Garis Besar Haluan Negara melalui Ketetapan MPRS No. IV tahun 1973. Tahun 1978 pada Konferensi Hukum Laut pada sidang ke tujuh di Geneva, konsepsi Wawasan Nusantara mendapat pengakuan dunia Internasional.
Dan, pada 10 Desember 1982, dengan perjuangan diplomatik yang tak kenal lelah, konsep Wawasan Nusantara dapat diterima dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa, United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), yang kemudian dituangkan dalam Undang-Undang No. 17 tanggal 31 Desember 1985 tentang pengesahan UNCLOS.
Apalagi kemudian pada tanggal 26 September 1998, B.J. Habibie mengumumkan deklarasi yang populer dikenal dengan Deklarasi Bunaken, menyatakan bahwa sudah waktunya visi pembangunan dan persatuan Indonesia berorientasi ke laut.
Sebagai negara maritim terbesar di dunia, Indonesia mulai kembali memiliki kepercayaan diri memiliki 3,9 juta km² luas lautan yang terbentang di antara 17.500 lebih pulau yang tercatat sebagai pulau terbanyak di dunia.
Yang menarik, adalah bahwa Deklarasi Djuanda melahirkan konsepsi Wawasan Nusantara.
Sedang Wawasan Nusantara sebenarnya adalah implementasi dari Politik Nusantara yang diterapkan oleh Gajah Mada, Mahapatih Amangkubumi Majapahit lebih dari 600 tahun lalu.
Kata Nusantara antara lain terdapat pada prasasti Penampihan bertarikh 1269, Serat Pararaton dan Nagarakretagama karya Rakawi Prapanca. Dan tidak diragukan, kata Nusantara yang kita pergunakan sampai hari ini terambil dari kepopuleran program politik Nusantara Gajah Mada.
Mau disadari atau tidak, kita ‘sangat’ mengakui eksistensi Gajah Mada yang telah berhasil mempersatukan nusantara yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan lebih luas lagi.
Kita tak ingin mundur ke masa lalu.
Mempelajari sejarah kebesaran bangsa masa lalu semata-mata sebagai langkah strategis mengamati tata-nilai yang dapat diterjemahkan ke masa depan, yang mutlak menjadi tanggungjawab seluruh anak bangsa, terutama generasi muda.
Keterpurukan yang sudah tak berujung di segala sektor ini memberikan tekanan yang sangat serius untuk disikapi. Bangsa ini sekarang nyaris kehilangan jati diri, kita tak lagi mampu mengenali diri kita sendiri.
Kebudayaan dan peradaban yang pernah kita miliki, yang pernah membawa bangsa ini menjadi bangsa besar dan disegani, menjadi tak lagi jelas asal-usulnya. Adaptasi kebudayaan dan peradaban dari Negara luar begitu mencengkeram seluruh urat nadi kehidupan masyarakat dan bangsa, sampai ke peloksok desa.
Seharusnya, kita tak perlu alergi menerima budaya dan peradaban dari Negara manapun apabila tetap konsisten menjaga warisan akar budaya dan peradaban yang memang menjadi milik kita secara an-sich sebagai harta ternahal yang sudah ada di bumi nusantara ini, setidaknya lebih dari enam ratus tahun lalu.
Kenyataan ini mengingatkan kita pada masa restorasi Meiji di Jepang sejak tahun 1868, yang telah mengantarkan Jepang menjadi Negara economic superpower nomor dua di dunia setelah Amerika.
Kebudayaan dan peradaban barat yang menjadi sumber inspirasi Jepang di kemudian hari terbukti menjadi kekuatan besar Jepang mengalahkan ‘guru’ mereka di segala bidang.
Restorasi Meiji ternyata sangat mirip dengan apa yang dilakukan oleh Majapahit di bawah kepemimpinan Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubumi Majapahit.
Dalam usianya yang relatif sangat muda (34 tahun) pada saat menjadi Mahapatih Amangkubumi, Gajah Mada dengan sangat berani melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan mengganti semua kabinet lama dengan orang-orang baru yang relatif sangat muda.
Gajah Mada dengan begitu berani mencanangkan konsepsi Negara maritim bagi Majapahit mengingat Nusantara Raya adalah wawasan yang di kelilingi lautan. Dan dengan sangat brilian Gajah Mada merekrut para ahli kemaritiman bukan ‘orang-orang’ Jawa, melainkan dari Sulawesi, Sumatra dan daerah lain yang terkenal sebagai pelaut-pelaut ulung sejak zaman Sriwijaya yang terbukti mampu menguasai setengah belahan Nusantara Raya.
Saat ini, sudah selayaknya kita memberikan high-light yang sangat besar pada sikap, mental, moral dan kinerja SDM Gajah Mada untuk bangkit dari keterpurukan panjang.
Kebudayaan dan peradaban yang datang dari belahan dunia manapun bukan menjadi ancaman, bahkan sebuah tantangan yang harus mampu kita hadapi dengan sangat arif dan santun namun sangat mengindahkan kaidah dan tata-nilai yang sudah ada di bumi Dwipantara warisan nenek-moyang yang telah membuktikan kebesarannya bukan saja tercatat dalam sejarah bangsa, namun Negara mancanegara pada zamannya.
Kinerja Gajah Mada benar menjadi otokritik buat kita sebagai anak bangsa, terutama generasi muda sebagai tulang punggung masa depan bangsa dan tanah air tercinta ini.
Sebagai holy-spirit, Gajah Mada telah memberikan kekuatan moral, mentalitas dan semangat untuk bangkit bagi bangsa yang pernah mengalami zaman keemasan ini.                                                                                                 

Kebudayaan Sebagai Peradaban


Kebudayaan Sebagai Peradaban

Saat ini, kebanyakan orang memahami gagasan “budaya” yang dikembangkan di Eropa pada abad ke-18 dan awal abad ke-19. Gagasan tentang “budaya” ini merefleksikan adanya ketidakseimbangan antara kekuatan Eropa dan kekuatan daerah-daerah yang dijajahnya. Mereka menganggap ‘kebudayaan’ sebagai “peradaban” sebagai lawan kata dari “alam”. Menurut cara pikir ini, kebudayaan satu dengan kebudayaan lain dapat diperbandingkan; salah satu kebudayaan pasti lebih tinggi dari kebudayaan lainnya.
Artefak tentang “kebudayaan tingkat tinggi” (High Culture) oleh Edgar Degas.

Pada prakteknya, kata kebudayaan merujuk pada benda-benda dan aktivitas yang “elit” seperti misalnya memakai baju yang berkelas, fine art, atau mendengarkan musik klasik, sementara kata berkebudayaan digunakan untuk menggambarkan orang yang mengetahui, dan mengambil bagian, dari aktivitas-aktivitas di atas. Sebagai contoh, jika seseorang berpendendapat bahwa musik klasik adalah musik yang “berkelas”, elit, dan bercita rasa seni, sementara musik tradisional dianggap sebagai musik yang kampungan dan ketinggalan zaman, maka timbul anggapan bahwa ia adalah orang yang sudah “berkebudayaan”.

Orang yang menggunakan kata “kebudayaan” dengan cara ini tidak percaya ada kebudayaan lain yang eksis; mereka percaya bahwa kebudayaan hanya ada satu dan menjadi tolak ukur norma dan nilai di seluruh dunia. Menurut cara pandang ini, seseorang yang memiliki kebiasaan yang berbeda dengan mereka yang “berkebudayaan” disebut sebagai orang yang “tidak berkebudayaan”; bukan sebagai orang “dari kebudayaan yang lain.” Orang yang “tidak berkebudayaan” dikatakan lebih “alam,” dan para pengamat seringkali mempertahankan elemen dari kebudayaan tingkat tinggi (high culture) untuk menekan pemikiran “manusia alami” (human nature)
Sejak abad ke-18, beberapa kritik sosial telah menerima adanya perbedaan antara berkebudayaan dan tidak berkebudayaan, tetapi perbandingan itu -berkebudayaan dan tidak berkebudayaan- dapat menekan interpretasi perbaikan dan interpretasi pengalaman sebagai perkembangan yang merusak dan “tidak alami” yang mengaburkan dan menyimpangkan sifat dasar manusia. Dalam hal ini, musik tradisional (yang diciptakan oleh masyarakat kelas pekerja) dianggap mengekspresikan “jalan hidup yang alami” (natural way of life), dan musik klasik sebagai suatu kemunduran dan kemerosotan.

Saat ini kebanyak ilmuwan sosial menolak untuk memperbandingkan antara kebudayaan dengan alam dan konsep monadik yang pernah berlaku. Mereka menganggap bahwa kebudayaan yang sebelumnya dianggap “tidak elit” dan “kebudayaan elit” adalah sama – masing-masing masyarakat memiliki kebudayaan yang tidak dapat diperbandingkan. Pengamat sosial membedakan beberapa kebudayaan sebagai kultur populer (popular culture) atau pop kultur, yang berarti barang atau aktivitas yang diproduksi dan dikonsumsi oleh banyak orang.

http://ochin.student.umm.ac.id/2010/07/13/kebudayaan-sebagai-peradaban/